Dialog RRI Denpasar tentang menjaga ketahanan pangan saat puncak kemarau bersama Ketua Petani Muda Keren

Petani Muda Keren di RRI Denpasar: Menjaga Ketahanan Pangan Bali di Tengah Puncak Kemarau

DENPASAR, BALI — Memasuki periode puncak musim kemarau, ketahanan pangan menjadi salah satu isu penting yang perlu mendapat perhatian bersama. Perubahan pola musim, ketersediaan air, pemilihan komoditas hingga kemampuan petani beradaptasi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan.

Isu tersebut dibahas dalam program Dialog Denpasar Pagi Ini RRI Denpasar, Senin, 31 Agustus 2026, dengan topik “Menjaga Ketahanan Pangan Saat Puncak Kemarau.”

Dialog menghadirkan Prof. Ketut Suamba, Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana, bersama Anak Agung Gede Agung Wedhatama, Ketua Petani Muda Keren, sebagai narasumber.

Program dipandu oleh Ayu Rini sebagai host, bersama penyiar Hapsarina Tjoa, dengan Agung Bayu sebagai operator dan Ida Ayu Frischa sebagai pengarah acara.

Kemarau Tidak Berarti Produksi Pertanian Harus Berhenti

Dalam dialog tersebut dibahas bahwa musim kemarau tidak semestinya dipandang hanya sebagai ancaman bagi sektor pertanian. Dengan perencanaan pola tanam yang tepat, pengelolaan sumber daya air serta pemilihan komoditas yang sesuai, aktivitas pertanian tetap dapat berjalan.

Ketua Petani Muda Keren, A.A. Gede Agung Wedhatama, menekankan pentingnya mengubah pendekatan dari sekadar mengejar produksi menjadi pertanian yang berbasis perencanaan. Petani perlu mengetahui kondisi air yang tersedia, karakteristik lahannya, kebutuhan pasar serta komoditas yang paling rasional untuk ditanam pada setiap musim.

Pada kondisi ketersediaan air yang terbatas, diversifikasi tanaman menjadi salah satu pilihan. Komoditas yang kebutuhan airnya relatif lebih rendah dapat menjadi bagian dari strategi untuk mempertahankan produktivitas lahan sekaligus mengurangi tekanan terhadap sumber daya air.

Ketahanan Pangan Bukan Hanya Persoalan Beras

Dialog juga mengangkat pentingnya melihat ketahanan pangan secara lebih luas. Ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan beras, tetapi juga kemampuan suatu wilayah menyediakan sumber pangan yang beragam dan berkelanjutan.

Jagung, kedelai, umbi-umbian, hortikultura serta berbagai komoditas pangan lokal memiliki peran dalam membangun sistem pangan yang lebih adaptif. Namun perubahan pola tanam tidak dapat dilakukan secara seragam. Kondisi lahan, ketersediaan air, kebutuhan pangan masyarakat, nilai ekonomi komoditas dan kepastian pasar tetap harus diperhitungkan.

Bagi Petani Muda Keren, keputusan mengenai apa yang ditanam seharusnya semakin berbasis pada data, kebutuhan pasar dan kondisi agroklimat, bukan semata-mata kebiasaan.

Air Menjadi Kunci Menghadapi Puncak Kemarau

Ketersediaan dan efisiensi penggunaan air menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan produksi pertanian selama musim kemarau. Karena itu, pengelolaan jaringan irigasi, embung, sumber air alternatif, teknologi irigasi hemat air hingga pengaturan jadwal tanam menjadi semakin penting.

Dalam konteks Bali, sistem subak juga memiliki posisi strategis. Subak tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi memiliki fungsi nyata dalam pengaturan distribusi air dan koordinasi aktivitas pertanian. Tantangannya adalah bagaimana kearifan lokal tersebut dapat diperkuat dengan teknologi dan informasi modern sehingga petani dapat mengambil keputusan secara lebih cepat dan akurat.

Petani Harus Mendapat Kepastian Pasar

Petani Muda Keren juga memandang bahwa ketahanan pangan tidak dapat dilepaskan dari kesejahteraan petani. Produksi yang tinggi tidak otomatis memberikan manfaat apabila pada saat panen harga justru jatuh karena pasar tidak mampu menyerap produksi.

Karena itu, pembangunan ketahanan pangan harus menghubungkan seluruh rantai pertanian: mulai dari perencanaan produksi, budidaya, pengelolaan air, pascapanen, distribusi hingga pemasaran.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari konsep Integrated Value Chain Agriculture yang terus dikembangkan Petani Muda Keren.

Petani perlu memperoleh informasi sejak sebelum menanam: apa yang dibutuhkan pasar, berapa volumenya, kapan dibutuhkan dan ke mana produk tersebut akan dipasarkan.

Dengan demikian, keputusan produksi dapat diselaraskan dengan kebutuhan pasar sekaligus mengurangi risiko terjadinya kelebihan pasokan yang menekan harga di tingkat petani.

Menjaga Pangan Berarti Menjaga Masa Depan Petani

Menghadapi perubahan iklim dan ketidakpastian musim, sektor pertanian membutuhkan kolaborasi antara petani, akademisi, pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat.

Dialog RRI Denpasar tersebut menjadi ruang untuk mengingatkan bahwa ketahanan pangan tidak dapat dibangun hanya ketika terjadi kekurangan pangan atau perubahan cuaca ekstrem. Ketahanan pangan harus direncanakan jauh sebelumnya melalui penguatan produksi, diversifikasi pangan, pengelolaan air, teknologi, kepastian pasar dan regenerasi petani.

Bagi Petani Muda Keren, tujuan akhirnya bukan sekadar memastikan pangan tersedia.

Ketahanan pangan yang kuat harus berjalan bersama dengan petani yang sejahtera. Sebab ketika bertani memberikan kepastian ekonomi dan masa depan yang layak, akan semakin banyak generasi muda yang percaya bahwa pertanian adalah sektor yang pantas untuk diperjuangkan.

PETANI MUDA KEREN — Integrated Value Chain Agriculture.