agung wedhatama pemaparan kdkmp bali

Koperasi Petani Muda Keren Dipercaya untuk Mengawal Edukasi Value Chain Agriculture dan Memberi Inspirasi kepada Pengurus Koperasi Desa Merah Putih (KDKMP)

BADUNG, BALI — Ketua Koperasi Petani Muda Keren (PMK), AA Gede Agung Wedhatama P., berbagi pengalaman membangun ekosistem agribisnis dari hulu hingga hilir dalam kegiatan Peningkatan Kompetensi Tematik bagi Pengurus Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang diselenggarakan di Bali. Forum ini menjadi ruang pembelajaran mengenai bagaimana koperasi dapat berperan lebih jauh sebagai penggerak ekonomi produktif, penguatan petani, dan pengembangan usaha desa.

Dalam pemaparannya yang bertajuk Small Scale Value Chain, Smart Agriculture, Keberlanjutan Pertanian Bali, Agung memperkenalkan pendekatan yang dikembangkan PMK: menghubungkan pendampingan petani, teknologi budidaya, penanganan pascapanen, pemasaran, pengolahan hasil, hingga akses pasar ekspor dalam satu rantai nilai.

Kegiatan edukasi Koperasi Petani Muda Keren untuk pengurus KDKMP

Jangan Hanya Membangun Koperasi di Desa, Bangunlah Desa Melalui Koperasi

Salah satu gagasan utama yang diangkat adalah pentingnya mengubah cara pandang terhadap koperasi. Keberhasilan koperasi tidak cukup diukur dari berdirinya lembaga, jumlah pengurus, atau tersedianya kantor. Koperasi perlu menghadirkan manfaat ekonomi yang nyata bagi anggota dan masyarakat: membuka pasar, meningkatkan nilai tambah produk lokal, menyediakan layanan usaha, serta menciptakan lapangan kerja.

Pesan “Jangan hanya membangun koperasi di desa, bangunlah desa melalui koperasi” menegaskan bahwa kelembagaan merupakan sarana, sedangkan kesejahteraan masyarakat adalah tujuan. Karena itu, pengurus perlu memulai dari pemetaan potensi desa, kebutuhan anggota, peluang pasar, dan model bisnis yang realistis.

Kegiatan edukasi Koperasi Petani Muda Keren untuk pengurus KDKMP

Belajar dari Perjalanan PMK: Membangun Rantai Nilai dari Hulu ke Hilir

Agung memaparkan pengalaman Koperasi Petani Muda Keren dalam merancang kegiatan usaha yang saling terhubung. Pada sektor hulu, PMK berfokus pada pengorganisasian petani, peningkatan kapasitas budidaya, pendampingan praktik pertanian yang baik, dan penerapan teknologi tepat guna. Pada sektor hilir, ekosistem PMK dikembangkan melalui unit pemasaran produk segar BOS Fresh, layanan konsumen BOS BOX, pengembangan produk olahan BOS Juice, serta kegiatan ekspor buah tropis melalui BOS Export.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa koperasi tidak harus berhenti pada kegiatan jual beli hasil panen. Dengan pengelolaan yang terintegrasi, koperasi berpeluang membangun kepastian pasar, memperbaiki standar mutu, mengurangi kehilangan pascapanen, dan meningkatkan daya tawar petani.

Kegiatan edukasi Koperasi Petani Muda Keren untuk pengurus KDKMP

Smart Agriculture Harus Menjawab Kebutuhan Petani

Teknologi menjadi salah satu bagian penting dari strategi tersebut. PMK mengembangkan penerapan pertanian cerdas melalui pemantauan kebun, penggunaan sensor, sistem irigasi dan penyiraman, serta dukungan digitalisasi operasional. Namun, teknologi bukan tujuan akhir. Penerapannya harus terukur, mudah dirawat, sesuai kondisi lapangan, dan membantu petani bekerja lebih efektif.

Dalam konteks Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, pengurus dapat memulai dari langkah sederhana seperti pencatatan stok, data anggota, pemetaan produksi, jadwal panen, pengelolaan pesanan, dan pelaporan keuangan yang tertib. Setelah kebutuhan dasarnya kuat, digitalisasi dapat dikembangkan sesuai kemampuan organisasi.

Kegiatan edukasi Koperasi Petani Muda Keren untuk pengurus KDKMP

Menghubungkan Pertanian dengan Pariwisata dan Potensi Lokal Bali

Paparan juga menyoroti peluang hubungan antara pertanian dan pariwisata. Di Bali, produk pangan lokal, pengalaman berkunjung ke kebun, edukasi pertanian, dan usaha berbasis desa dapat saling mendukung. Koperasi berpotensi menjadi penghubung antara kelompok produsen, pelaku pariwisata, pasar lokal, dan konsumen akhir.

Pengembangan tersebut memerlukan standar kualitas, kesinambungan pasokan, tata kelola yang baik, serta kemitraan yang memberi manfaat secara adil bagi petani dan pelaku usaha desa. Model bisnis tiap desa perlu disusun berdasarkan potensi dan kondisi setempat, bukan sekadar meniru usaha yang berhasil di wilayah lain.

Kegiatan edukasi Koperasi Petani Muda Keren untuk pengurus KDKMP

Pengurus Koperasi Perlu Adaptif sekaligus Antisipatif

Selain pengembangan usaha, kegiatan peningkatan kompetensi ini relevan untuk memperkuat kepemimpinan pengurus. Sikap adaptif diperlukan agar koperasi mampu merespons perubahan permintaan pasar, harga, cuaca, teknologi, dan perilaku konsumen. Sikap antisipatif diperlukan agar pengurus tidak menunggu masalah muncul, melainkan menyiapkan rencana pasokan, cadangan operasional, pengendalian mutu, dan diversifikasi pasar sejak awal.

Koperasi yang sehat juga membutuhkan pembagian peran yang jelas, transparansi, disiplin administrasi, evaluasi usaha berkala, serta keputusan berdasarkan data. Semangat gotong royong perlu didukung manajemen profesional agar usaha dapat bertahan dan berkembang.

Kegiatan edukasi Koperasi Petani Muda Keren untuk pengurus KDKMP

Dari Pelatihan Menuju Dampak Ekonomi Desa

Melalui forum peningkatan kompetensi ini, pengalaman PMK diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi pengurus Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dalam merancang usaha yang produktif dan berkelanjutan. Setiap koperasi dapat memulai dari satu komoditas unggulan, membangun basis anggota yang aktif, menetapkan pasar sasaran, lalu memperluas rantai nilai secara bertahap.

Pesan yang mengemuka adalah bahwa koperasi yang kuat bukan hanya koperasi yang memiliki struktur organisasi, melainkan koperasi yang mampu menggerakkan produksi, memperluas kesempatan usaha, meningkatkan kesejahteraan anggota, dan menjadikan desa semakin mandiri.

5 Berita Terkait

Petani Maju, Petani Bersatu

Bersama membangun Pertanian Indonesia Yang Sehat, Subur dan Smart.

0811 396 2727

Call / WA