CEO BOS Dwi Permata Sari dan mitra Tiongkok memperlihatkan dokumen MoU ekspor salak di Shanghai

Dari Indonesia ke Tiongkok, Shanghai Menjadi Saksi CEO BOS Agung Dwi Permasari Raih MoU Ekspor Salak USD 2 Juta

SHANGHAI, TIONGKOK — Dari meja pertemuan bisnis di Shanghai, salak Bali membuka jalan menuju pasar yang lebih luas. CEO PT Bali Organik Subak (BOS), Ibu Dwi Permata Sari, mewakili unit bisnis Koperasi Petani Muda Keren (PMK) dalam misi dagang yang difasilitasi Kementerian Perdagangan Republik Indonesia pada Mei 2026. Pertemuan dengan calon pembeli dan penandatanganan nota kesepahaman menghasilkan komitmen bisnis ekspor salak senilai USD 2 juta untuk periode satu tahun.

Angka itu menjadi tonggak penting bagi PT BOS dan jejaring petani salak Bali. Di balik dokumen kerja sama tersebut ada pekerjaan panjang: menghubungkan hasil kebun petani dengan kebutuhan pasar internasional, menjaga mutu buah, menyiapkan pengemasan, dan membangun kepercayaan pembeli untuk pengiriman yang berkelanjutan.

Dipertemukan di panggung perdagangan Indonesia–Tiongkok

Rangkaian misi dagang Indonesia berlangsung di Shanghai pada 18–20 Mei 2026, beriringan dengan partisipasi Indonesia pada pameran pangan internasional SIAL Shanghai 2026. Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri, hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut. Forum bisnis pada 19 Mei menjadi ruang bagi pelaku usaha kedua negara untuk bertemu, memperkenalkan produk, dan membahas kerja sama secara langsung.

Dwi Permata Sari di meja PT Bali Organik Subak saat business matching di Shanghai
Ibu Dwi Permata Sari di meja business matching PT Bali Organik Subak.

Di meja penjajakan bisnis, PT BOS membawa satu pesan: salak Bali memiliki peluang untuk memasuki pasar Tiongkok melalui pasokan yang disiapkan secara serius dari hulu hingga hilir. Dokumentasi kegiatan memperlihatkan Ibu Dwi berdialog dengan calon mitra, menunjukkan materi produk, dan menandatangani dokumen kerja sama di hadapan perwakilan kedua negara.

Dokumentasi penjajakan bisnis PT Bali Organik Subak di Shanghai
Produk dan peluang kerja sama dibahas langsung bersama calon mitra Tiongkok.

Menurut Kementerian Perdagangan, keseluruhan misi dagang Shanghai bersama SIAL Shanghai 2026 mencatat potensi transaksi sekitar USD 88,5 juta dari berbagai kegiatan promosi, forum bisnis, penandatanganan kerja sama, dan pertemuan dengan importir. Komitmen ekspor salak PT BOS senilai USD 2 juta merupakan bagian dari kisah kerja sama yang lahir dari misi dagang tersebut.

Suasana pertemuan bisnis Indonesia dan Tiongkok di Shanghai
Suasana pertemuan langsung pelaku usaha Indonesia dan Tiongkok dalam misi dagang Shanghai.

MoU USD 2 juta, langkah besar yang diwujudkan bertahap

Kesepakatan di Shanghai adalah komitmen bisnis untuk satu tahun. Nilai USD 2 juta menunjukkan peluang pasar dan rencana transaksi, bukan berarti seluruh nilainya telah terealisasi sebagai pengiriman atau pendapatan pada hari penandatanganan. Pekerjaan sesungguhnya dimulai setelah pena diangkat: menyelaraskan permintaan pembeli dengan kapasitas pasokan petani, ketentuan mutu, kesiapan fasilitas, dan jadwal pengapalan.

Dwi Permata Sari menandatangani dokumen kerja sama dalam misi dagang Shanghai
Ibu Dwi menandatangani dokumen kerja sama di meja PT BOS.

Momentum itu mulai menunjukkan hasil nyata. Pada 6 Agustus 2026, Wakil Menteri Perdagangan melepas pengiriman awal 3,5 ton salak produksi PT BOS ke Tiongkok dari Kabupaten Badung, Bali. Kementerian Perdagangan mencatat nilai pengiriman tersebut sekitar USD 13 ribu dan menyebutnya sebagai tindak lanjut komitmen bisnis yang dicapai di Shanghai.

Penandatanganan MoU ekspor salak BOS di Shanghai disaksikan Wakil Menteri Perdagangan
Penandatanganan MoU disaksikan perwakilan Indonesia dan Tiongkok.

Perjalanan dari MoU pada Mei menuju ekspor pada Agustus memperlihatkan bahwa business matching dapat berujung pada pengiriman nyata ketika akses pasar, kesiapan pelaku usaha, dan dukungan pemerintah berjalan bersama.

Petani Bali berada di pusat cerita

Bagi PMK, ekspor tidak berhenti pada pertemuan di kota besar atau foto penandatanganan. Permintaan dari luar negeri perlu diterjemahkan menjadi kepastian serapan, standar kualitas yang jelas, dan hubungan dagang yang memberi manfaat bagi petani. PT BOS menghubungkan petani, proses sortasi dan pengemasan, serta pembeli di pasar tujuan dalam satu rantai pasok.

Calon mitra Tiongkok berdiskusi mengenai produk buah tropis PT Bali Organik Subak
Dialog dengan calon pembeli menjadi awal penyelarasan kebutuhan pasar dan kapasitas pasokan.

Salak dari sentra petani Bali harus melewati penanganan yang cermat sebelum sampai ke konsumen Tiongkok. Kualitas panen, ketelusuran asal buah, kesiapan fasilitas pengemasan, dan konsistensi pasokan menjadi pekerjaan bersama yang menentukan apakah kerja sama ini dapat tumbuh berkelanjutan. Peluang ekspor yang lebih luas diharapkan memperkuat posisi tawar dan pasar hasil panen petani.

Dari meja nomor sembilan menuju pasar dunia

Di Shanghai, papan nama PT Bali Organik Subak berdiri di meja pertemuan bisnis. Di belakangnya ada kerja petani Bali yang selama ini menanam, merawat, dan memanen salak. Penandatanganan MoU menjadi momen penting; pengiriman awal menjadi bukti bahwa pintu yang dibuka dalam misi dagang dapat dilalui oleh produk dari kebun mereka.

PMK dan PT BOS memandang capaian USD 2 juta sebagai target kerja yang menuntut tindak lanjut, disiplin mutu, dan kolaborasi jangka panjang. Dari Bali ke Shanghai, lalu ke pasar Tiongkok, langkah ini membawa harapan agar nilai tambah perdagangan internasional semakin terasa hingga ke tingkat petani.

Rujukan: Siaran pers Kemendag tentang realisasi ekspor salak BOS; dokumentasi Kemendag pada SIAL Shanghai 2026; keterangan Kemendag mengenai hasil misi dagang Shanghai.

Petani Maju, Petani Bersatu

Bersama membangun Pertanian Indonesia Yang Sehat, Subur dan Smart.

0811 396 2727

Call / WA