Pengembangan SUBAKO Water Gate System bersama Koperasi Petani Muda Keren

Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Udayana Kembangkan SUBAKO Water Gate System Bersama Koperasi Petani Muda Keren

Koperasi Petani Muda Keren (PMK) kembali menjadi ruang kolaborasi bagi generasi muda untuk menghadirkan inovasi teknologi yang dapat diterapkan langsung dalam sektor pertanian Bali.

Pengembangan SUBAKO Water Gate System bersama Koperasi Petani Muda Keren

Dua mahasiswa Teknik Elektro Universitas Udayana, Arya dan Carlo, saat ini melaksanakan penelitian tugas akhir atau skripsi di Koperasi Petani Muda Keren dengan mengembangkan proyek SUBAKO – Water Gate System, sebuah sistem pintu air cerdas untuk mendukung pengelolaan irigasi Subak.

Dalam proses pengembangannya, Arya dan Carlo dibimbing oleh Wahyu Wiranata dan Bli Agung Wedhatama untuk menerjemahkan konsep teknologi menjadi sistem yang relevan dengan kondisi nyata petani dan tata kelola air di lapangan. Pengembangan ini juga berada di bawah arahan Mikiko Smart Farming, dengan fokus pada integrasi sensor, Internet of Things (IoT), komunikasi data, energi surya, dan sistem kontrol pintu air.

Dari Persoalan Petani Menjadi Proyek Teknologi

Dalam sesi presentasi di Koperasi Petani Muda Keren, Arya dan Carlo diminta memaparkan SUBAKO dari perspektif mereka sebagai mahasiswa Teknik Elektro. Mereka tidak hanya melihat pintu air sebagai perangkat mekanis, tetapi sebagai bagian dari sistem pengelolaan air pertanian yang dapat menghasilkan data dan membantu proses pengambilan keputusan.

Urgensi pengembangan sistem pintu air SUBAKO untuk pertanian Bali

Konsep SUBAKO dirancang untuk melakukan pengukuran kondisi air secara berkelanjutan. Sensor membaca level dan debit air, kemudian data diproses dan dikirim melalui jaringan komunikasi seperti LoRa/LoRaWAN menuju sistem pengolahan data dan dashboard. Pintu air dapat bekerja berdasarkan parameter yang ditentukan, dengan tetap menyediakan kontrol lokal dan pengambilalihan secara manual ketika dibutuhkan.

Arsitektur sistem SUBAKO untuk digitalisasi pengelolaan air Subak Bali

Sistem juga dirancang menggunakan panel surya sehingga memiliki potensi diterapkan pada area pertanian yang memiliki keterbatasan akses jaringan listrik.

Teknologi Bukan untuk Menggantikan Pekaseh

Salah satu prinsip penting yang ditekankan Koperasi Petani Muda Keren adalah bahwa modernisasi Subak tidak boleh menghilangkan struktur sosial dan budaya yang telah hidup selama ratusan tahun di Bali. Teknologi harus menjadi alat bantu Pekaseh, bukan menggantikan Pekaseh.

Konsep SUBAKO Smart Water Gate berbasis IoT dan energi surya

Melalui dashboard SUBAKO, data mengenai kondisi air, distribusi, jadwal hingga bukaan pintu air diharapkan menjadi instrumen yang lebih transparan bagi Pekaseh dan petani dalam mengambil keputusan. Digitalisasi diarahkan untuk memperkuat tata kelola Subak serta membantu distribusi air yang lebih terukur dan adil antara wilayah hulu dan hilir.

Menjawab Tantangan Pertanian Bali

SUBAKO lahir dari realitas yang sedang dihadapi pertanian Bali: alih fungsi lahan, meningkatnya kompetisi terhadap sumber daya air, perubahan iklim, serta kebutuhan meningkatkan efisiensi pengelolaan irigasi. Kesalahan atau keterlambatan pengaturan air dapat berdampak langsung terhadap pertumbuhan tanaman, produktivitas, risiko gagal panen, dan pada akhirnya pendapatan petani.

Karena itu, inovasi pertanian menurut Koperasi PMK tidak cukup hanya berbicara mengenai aplikasi atau digitalisasi pemasaran. Teknologi juga harus masuk sampai ke persoalan paling mendasar di lahan: tanah, tanaman, cuaca, dan air.

Dari Skripsi Menuju Prototype di Lapangan

Bli Agung Wedhatama mendorong agar penelitian mahasiswa tidak berhenti pada laporan akademik dan presentasi. Target pengembangan SUBAKO adalah bergerak dari ide dan penelitian menuju prototype Water Gate System yang dapat diuji bersama petani dan Pekaseh di lapangan.

“Saya ingin anak-anak muda datang ke pertanian bukan hanya untuk melihat masalah, tetapi menggunakan ilmu yang mereka pelajari untuk membuat solusi. SUBAKO harus kita dorong dari sebuah ide dan skripsi menjadi prototype, kemudian diuji langsung bersama petani dan Pekaseh di lapangan.”

Bli Agung Wedhatama

Menurut Bli Agung Wedhatama, teknologi pertanian yang baik bukanlah teknologi yang paling rumit, melainkan teknologi yang berguna, terjangkau, mudah dirawat, dan benar-benar menyelesaikan persoalan petani.

Road map pengembangan SUBAKO Water Gate System

Tahapan berikutnya diarahkan pada penyempurnaan desain, pembangunan prototype, pengujian sensor dan komunikasi data, pengujian mekanisme pintu air, hingga pilot project pada jaringan irigasi Subak.

Smart Farming yang Tetap Berakar pada Tri Hita Karana

Subak bukan sekadar jaringan irigasi. Di dalamnya terdapat hubungan antara manusia, alam, kehidupan sosial, dan nilai spiritual masyarakat Bali. Karena itu, digitalisasi Subak harus dilakukan dengan pendekatan yang menghormati sistem tersebut.

SUBAKO membawa gagasan bahwa teknologi modern tidak harus berhadapan dengan tradisi. Sensor, IoT, data, energi surya, dan otomatisasi menjadi instrumen baru, sementara keputusan dan tata kelola tetap berpijak pada petani, Pekaseh, serta nilai-nilai lokal.

Arya dan Carlo mengembangkan SUBAKO Water Gate System di Koperasi Petani Muda Keren

Kolaborasi Arya dan Carlo bersama Koperasi Petani Muda Keren, dengan bimbingan Wahyu Wiranata dan Bli Agung Wedhatama serta arahan Mikiko Smart Farming, diharapkan menjadi langkah menuju pengembangan sistem pengelolaan air Subak yang lebih efisien, transparan dan adaptif terhadap perubahan iklim, namun tetap menjaga filosofi Tri Hita Karana.

Dari Subak Bali, teknologi dikembangkan.
Dari kebutuhan petani, inovasi dimulai.
Dan dari generasi muda, masa depan pertanian dibangun.

Berita Terkait

Petani Maju, Petani Bersatu

Bersama membangun Pertanian Indonesia Yang Sehat, Subur dan Smart.

0811 396 2727

Call / WA